Heboh minyak di Aceh – Mercon Gong Xi Fa Chai dari BPPT

monyet.jpgBerita di koran tentang diketemukannya minyak buesar di Aceh oleh BPPT sangat menghebohkan. Lah wong pagi-pagi bosku dikantor langsung tanya,”Emangnya kamu ngga denger berita ini ?Gandrik !!! … “Tugasku kan salah satunya memonitor aktifitas eksplorasi di Asia Tenggara tentusaja malu donk kalau kecolongan berita heboh seperti ini, kan ?”

Howgh akhirnya kutemukan berita aslinya di Jakarta Post :

” The statement said the maximum of the reserve could reach 320 billion barrels. As a comparison, the proven reserve of Saudi Arabia is around 264 billion barrels, the largest in the world, while the Banyu Urip block in Cepu, Central Java, contains around 450 million barrels. “

Mercon Gong Xi Fa Chai

Reaksi pertamaku karena mendengar letusan Mercon Gong Xi Fa Chai BPPT ini salah satunya adalah melakukan “reality chek“. Lah iya ta, saya sekarang ini termasuk orang pemimpi yang selalu terkendala dengan realitas yang mungkin karena sudah termakan usia. Kalau masih muda tentunya aku akan menjadi pemimpi ulung, tetapi ketika usia sudah kepala empat begini, realitas menjadi sebuah tolok ukur. Bagi yang masih muda … jangan ikuti kata saya soal realitas ini !

😦 “Looh, bukannya mimpi itu harus direalisasikan”
😀 “Betul thole, tetapi ketika sedang mimpi, janganlah dibatasi dengan kendala apapun jua. Nanti kalau sudah bangun barulah kau coba merealisasikannya”

Mercon Gong Xi Fa Chai yang mengagetkan ini justru membangunkan aku dari keenakan tidur selama looong whik en kemarin. dan aku pun terbangun !

Pikiran buruk alias suudzon-pun juga muncul. Selain mungkin karena curiga adanya kesalahan penggunaan asumsi size trap (ukuran jebakan) dalam karbonat (gambar sederhana dibawah sana), yang saya khawatirkan adalah belum ada reality check dalam hal penyampaian “angka” oleh BPPT. Disamping itu juga adanya kecurigaan kesalahan persepsi antara discovered HC dan undiscovered (speculative) dalam memahami natural resources. Nah, itu pikiran minusku gara-gara malu kalah duluan sama bos soal berita heboh 😦

Tapi harus ada yang bagus dalam setiap kejadian, paling tidak ada bahan dan modal dasar untuk blajar … Ya wis lah mulai aja blajar lagi !

Reality chek !

Tanpa data real (raw data)) dari BPPT tersebut saya juga tidak mungkin melakukan reality chek. Kecuali ada yang mau berbagi info tentang hal ini. Akhirnya ngalah, kembali dilihat secara teoritis saja lah …

Paling tidak ada dua hal yang menjadi unsur penting ketika sebuah cekungan sedimen ini untuk mampu menghasilkan kuantitas minyak sebesar itu (100 Milyard Barrel) yang di klaim menjadi potensi migas di daerah survey yang masih rahasia ini.

1. Source (charging). Kemampuan menghasilkan migas sebuah cekungan.

Apakah ada source rock (batuan induk) yang mampu menggenerate HC sebanyak itu ? Seberapa besar volume dari source kitchennya, seberapa bagus expulsion efisiensi dalam men-generate HC.

Geologist eksplorasi itu mestinya tahu dan bisa “menghitung” (tepatnya memperkirakan) jumlah migas yang dapat dihasilkan dari sebuah cekungan, atau boleh disebut saja dapur minyak. Secara teori organik dalam pembentukan migas, menyatakan bahwa batuan yang mengandung carbon akan mampu menghasilkan minyak ketika teredapkan dan terkubur. Karena terkubur semakin dalam menjadikannya semakin panas, maka akan ada proses “pematangan” (maturation) dari batuan induk (source rock) ini. Namun tentusaja tidak semua carbon akan dapat “dimasak“, dalam dapur cekungan ini.

Jadi dari sini kita belajar, bahwa minyak dan gas merupakan hasil proses “pematangan” dari batuan yang mengandung carbon. Tentusaja efisiensi proses pemasakannya akan ada batasannya.

Menggoreng Tempe

cekungan-minyak.jpgContoh analoginya dengan tempe mengatakan : Tidak mungkin semua tempe yang digoreng akan mateng dan sama enaknya. Ada yang tempe yang gosong kalau digoreng, ada yang setengah mateng, ada pula yang setengah mentah. Karena tempe ini digoreng dalam satu wajan yang sama dalam waktu yang sama !

😦 “Apalagi kalau telat nggoreng ya, mosok tempe bosok digoreng ?”
😀 “Tepat sekali thole. Waktu menggorengnyapun harus pas !”

Disebalah kanan atas ini sebuah contoh penampang sederhana, bagaimana minyak itu berasal dari sumber (source rock– S). Kemudian termatangkan, dan mengalir masuk ke sebuah jebakan. Tentusaja anda bisa melihat bahwa sumber (S) ini terbatas oleh besar kecilnya cekungan. Selain itu jumlah carbon yang ada tidak selalu mencukupi untuk dimask dalam batuan sedimen. Hanya batuan-batuan tertentu yang mengandung carbon yang cukup.

Setelah batuan ini masak, maka akan mengalir keatas untuk kemudian masuk kedalam jebakan (trap). Jebakan ini berada pada batuan Reservoir (R). Yang seringkali berupa batu pasir, ataupun batugamping yang berpori. Yang di Aceh itu reservoirnya batugamping terumbu (carbonate reef)

😦 “jebakannya itu boleh dianalogikan dengan meja makan ya ?”
😀 “Boleh saja Thole. Lah trus pori-porinya opo ?”
😦 “Ya anggap saja, piringnya … kalau piringnya gede-gede brarti muat banyak, gitu kan ?”

Tentusaja harus ada penutup atau tudung yang disebut Cap rock [C] atau Top seal. Tanpa adanya penutup ini tentusaja minyak akan terus bergerak keatas. Kenapa minyak bergerak ke atas? Ya, minyak akan cenderung naik keatas, karena minyak juga gas bumi memiliki berat jenis lebih kecil dari air, maka minyak dan gas akan selalu keatas. Pada waktu terbentunya batuan ini kan di air, jadi isi pori-pori ini awalnya tentusaja air. Apabila penutup tudung atasnya ini bocor, maka akan muncul rembesan minyak atau gas dipermukaan. Perlu diketahui, rembesan ini dahulu dipakai sebagai petunjuk ada tidaknya minyak dibawah tanah.

😦 “Kalau piringnya ngga ditutup, tempe-nya digondol si Gembul ?”

Timing is eveything ! Keseluruhan proses ini (pengendapan, pematangan, pemerangkapan) mestinya dalam satu periode waktu yang pas tentusaja. Kalau telat menggoreng tempe jadi busuk ga bisa jadi tempe goreng. Kalau telat menangkap maka jebakannya hanya berupa piring berisi air. Kalau telat ngambil juga, wadduh keduluan si Gembul ! Tetapi kalau belum jadi tempe kok sudah keburu digoreng maka akan jadi kedele goreng ! 😛

Jadi untuk bisa terbentuk migas dalam sebuah cekungan itu memerlukan beberapa syarat, salah satunya yang diatas itu. Akhirnya setelah dilakukan eksplorasi di beberapa cekungan di Indonesia ini, diketahui juga bahwa tidak semua cekungan akan menghasilkan migas, tentusaja.

2. Container capacity- Daya tampung tangki

jebakan-karbonat.jpgBatuan reservoir (R) ini tidak selalu batu pasir, batuan apapun yang memiliki porositas akan selalu mampu menjadi reservoir. Kalau kata Thole, tidak semua piring itu akan diisi oleh tempe. Bisa saja isinya krupuk, atau malah piring berisi tulang-tulang sisa. Demikian juga batuan sarang ini bisa saja terisi oleh CO, contohnya migas di Natuna D-alpha yg bikin geger itu. Cadangannya besar sekitar 225 TCF (225.000.000.000.000) kaki kubik… Tetaaapi sekitar 72% -nya berupa gas CO2 … Walopun begitu, sisanya yang gas hydrokarbon (methan s/d pentahn) . Ya masih lumayan ada sekitar 60-an TCF … Bayangkan saja sebagai pembanding cadangan (reserves ) lapangan Gas Arun di Aceh saja cuman sekitar 16 TCF.
Dalam hal issue Aceh ini, yang diperkirakan menjadi batuan reservoirnya adalah batugamping terumbu. Ya terumbu karang yang terbentuk ini kalau terkubur bisa menjadi sebuah wadah, sebagai tanki yang mengandung minyak.

Konon menurut hikayat dari BPPT diperkirakan akan ada 100 milayar barrel. Pertanyaan yang berkecamuk dikepala botakku ini tentunya ada beberapa. Salah satunya, apakah ada tanki atau kontener yang mampu menampungnya ? berapa porositasnya, bagaimana kemampuan tudung penutupnya (Seal capacity) dalam menahan kolom HC dibawahnya karena faktor bouyancy … dalam hal ini termasuk rentention yaitu seberapa kuat menahan dalam waktu tertentu. (btw, setahuku jarang (tidak ada) reef build-up yang terisi “full to spill” atau penuh seperti gambar kedua diatas. Pikiran minus kembali berkecamuk …. jangan-jangan yang dihitung hanya ukuran dari kontainernya saja.

Sebagai gambaran diatas ini menggambarkan bagaimana tubuh batuan karbonat terumbu (carbonate reef) dapat menjadi kontainer yang terisi oleh migas. Seringkali hanya pentil-pentil kecil di ujung tubuh reef (terumbu) yang akan terisi oleh migas. Selain karena jumlah yang dihasilkan oleh dapur memang tidak banyak. Juga biasanya porositas yang bagus hanya bagian-bagian kecil ini saja.

Tetapi yang paling sering justru terisi oleh air seperti yang paling bawah. naaah kalau yang paling bawah ini mestinya mengingatkan isi air dari terumbu karang yang terpendam dibawah Sidoarjo. Lusi !! Coba tengok disini : Detak Kelahiran Lusi

3 …Yang ketiga ...wah banyak lagi nanti segini dulu saja, ya 🙂

ANALOGI

Diteruskan saja soal bagaimana cara melakukan reality chek ini. Salah satu cara utk “reality check” adalah mencari analogi, adakah analoginya di lokal Indonesia (atau mungkin region Asia). Kalau belum menemukan analogi tetapi masih mau mencoba lagi, bisa saja mencari analogi secara global, adakah analoginya “somewhere on earth“?. Cadangan terbesar atau mungkin bisa mewakili cekungan terbesar di dunia yang menghasilkan migas ada di Saudi dimana jumlah yang sudah diketemukan sebesar 260 Milyar Barrel.

cekungan-indonesia-doust-2008.jpgKebetulan pagi ini aku browse journal-journal terbaru, dan ketemu tabel daftar jumlah minyak di cekungan migas yang sudah terbukti Indonesia disebelah ini (Doust, February 2008) . Tentunya angka bilyun Barrel di Aceh versi BPPPT akan sangat anomali di skala regional Indonesia. Silahkan di klik saja untuk memperbesar.

indonesia-basin-2008.jpgCekungan-cekungan sedimen itu tergambar dalam gambar disebelah kiri ini. Masih dari sumber yang sama.

Source Marine and Petroleum Geology Volume 25, Issue 2, February 2008, Pages 103-129

😦 “Wah itu pagi-pagi sudah mbaca Journal ilmiah ya ?”
😀 “Itulah thole ikuti kataku Jangan Baca Koran di Pagi Hari

MIMPI

dream.gifWis ah mendingan mimpi lagi saja dulu, siapa tahu emang Aceh memang menjadi anomali di dunia setelah Arab Saudi. 😛

Mari bermimpi bareng-bareng ! Lupakan sejenak “reality check” kita coba “out of the box“.

Kalau masih akan mencoba improvisasi “out of the box“, sechara tidak adanya analogi, boleh saja dilakukan. Walaupun harus disadari kita akan tetep berhadapan dengan realitas …. harus dalam koridor “BOX” yang lain. ‘Box‘nya bisa saja “local analogue”, bisa saja dalam box “global analogue“. Kalau masih kurang dalam “fundamental physics”. artinya apakah spekulasi kita masih akan diakui dalam ilmu fisika ? Misalnya, apakah source rock yang diperkirakan ada itu akan mampu 50% efficient menghasilkan HC ?

Halllah kok mbalah jadi paradoxial dewe, mimpi kok terbentur realitas 😦
Barangkali Aku sudah ngga mampu lagi ngimpi soal yang satu ini … Ya sudah yang muda saja yang mimpi lah !

😦 “Jadi aku yang masih muda ini tidur lagi aja ya ?” 😛

Yang ingin saya sampaikan adalah … penyampaian “angka” (walaupun spekulatif) itu mestinya selalu dalam sebuah koridor ilmiah, apalagi BPPT !. Dan saya yakin mereka sudah melakukannya dengan baik. Tentusaja, menyampaikan angka sebesar itu walaupun ingin out of the box, tetap harus dalam box hukum-hukum ilmu dasar fisika dan kimia. Kecuali memang mau menemukan sesuatu yang memang ruarrr biasa !

Salam mimpi

Proses terjadinya (pembentukan) minyak bumi bisa dibaca disini :

Advertisements
Posted in Geologi, Pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

In Archive
%d bloggers like this: